Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kadal Gurun: Stigma yang Dibiarkan Menggelinding Liar


Sebagai muslim yang masih perlu banyak belajar dan belum memenuhi standar ideal (bahkan dengan menjadi manusia sekalipun) saya tidak mempermasalahkan pemahaman muslim lainnya terhadap ajaran agama karena perbedaan pemahaman dalam agama merupakan rahmat.  Perbedaan sikap dan pemahaman adalah hal yang wajar. Bukan suatu ancaman, mungkin karena saya tidak punya kepentingan apapun.

Bila saya memiliki suatu keyakinan yang khusus atau ekslusif, itu adalah keyakinan pribadi, tetapi di dalam pelaksanaannya dalam perilaku terhadap orang lain tentu kita ingin melakukannya secara inklusif. Saya ingin seperti air yang berada di Bumi tetapi bisa dinamis mengikuti lekak-lekuk Bumi. Masalahnya saya mungkin tidak benar-benar bisa menjadi air yang membumi.

Tidak ada salahnya bagaimana seseorang beragama selama hal itu memang terdapat dalil-dalilnya. Urusan pemahaman agama biarlah berada dalam domain para ulama. Tidak elok bila kita menjelek-jelekkan ustadz dan tokoh agama hanya karena perbedaan pandangan dan sesuatu hal yang tidak kita sukai karena dipengaruhi oleh label-label tertentu. Sungguh, offside, bila mengurusi soal pemahaman agama apalagi sampai menjuluki kelompok dengan istilah atau label "Kadrun". Walaupun tidak diakui sebagai bentuk polarisasi tetapi nyatanya label Kadrun itu menimbulkan kegaduhan dan polarisasi di antara anak-anak bangsa.

Akan lebih baik bila kita merajut persatuan bukan berpecah belah, apalagi tergiring oleh opini yang membawa kepentingan dari kelompok tertentu yang cenderung mengarah pada pemahaman SIPILIS (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme, dan Sosialisme) yang selama ini menampakkan sikap kontra pada kelompok Islamis. Apakah benar? Wallahu A'lam... 

Tentu kita tidak bisa sembarang menuduh kelompok yang sering memberi julukan Kadrun itu terpapar pemahaman pro SIPILIS. Begitu juga tidak seharusnya julukan Kadrun dilabelkan secara serampangan dan menuduh telah terpapar virus radikalisme dan pro khilafah. Tuduhan-tuduhan ini bisa menimbulkan perpecahan sehingga pada akhirnya negara ini hancur melalui pelabelan yang dibiarkan tumbuh meliar dan menimbulkan kebencian antar kelompok dan golongan bahkan sampai pada tahap menimbulkan rasisme, rasialisme, dan intoleran.

Bangsa ini lama-lama akan rusak dengan berbagai perilaku di media sosial yang bersifat toxic dan junk information karena akan memengaruhi alam pikir generasi muda kita sebagai tunas-tunas bangsa yang membutuhkan lingkungan yang baik terutama di era digital untuk tumbuh berkembang dan memajukan negara ini di segala bidang. Orang-orang yang muak dengan perilaku toxic ini, berupa ujaran kebencian, pelabelan, dan hal-hal lain yang membawa iklim yang tidak sehat akan lari dari pembahasan politik karena isinya hanya ada hinaan dan kebencian, apalagi sampai membawa-bawa identitas suku, ras, dan agama. 

Dua kelompok yang selama ini dilabeli sebagai "cebong", dan kelompok lain yang dilabeli "Kadrun", dua-duanya saling tuduh menuduh, dan sangat disayangkan elit-elit politik membiarkannya begitu saja tanpa ada upaya untuk "menormalisasi" seakan mereka ikut menikmati perpecahan ini untuk "aset" politik dalam Pemilu. Bagi saya, semua stigma yang dilekatkan adalah bagian dari politik karena lahir dari sikap politik sehingga hanya lewat politik juga yang bisa mengakhiri polarisasi ini. 

Posting Komentar untuk "Kadal Gurun: Stigma yang Dibiarkan Menggelinding Liar"