Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Ilmu Tanpa Amal


Seseorang akan diuji dengan apa yang dia tahu, dengan apa yang ia rasa, dengan apa yang ia ucapkan. Ujian itu menjadi bukti untuk dirinya apakah ia bersama dengan pengetahuannya, apakah benar apa yang ia rasakan, dan apakah ia bersama dengan kebenaran yang ia ucapkan. Apakah teguh perbuatannya mengikuti lisannya, atau hanya di lisan saja tanpa diikuti perbuatan.

Ilmu yang sedikit tetapi diamalkan jauh lebih bermanfaat dari ilmu yang banyak tetapi sedikit yang diamalkan. Celakalah yang membawa banyak kitab di tangannya tetapi ia tidak mendapatkan hidayah dari ilmunya. Hatinya tertutup karena ilmu tersebut berbalik menjadi gelap dan beban bukan menjadi terang dan membawa pada kemudahan. 

Sesuatu yang diketahui itu buruk lalu dikatakan olehnya itu buruk tetapi tetap dikerjakan akan membawa pada kerasnya hati. Bukankah kedurhakaan itu lebih buruk dari kebodohan? Sulit untuk menasihati kedurhakaan daripada memperbaiki kebodohan. Kebodohan diperbaiki dengan ilmu, kedurhakaan diperbaiki dengan teguran. Bila teguran tidak digubris, maka kita tidak bisa menghalangi datangnya azab. Bila azab datang selesailah kedurhakaannya. Selesailah kedzalimannya. 

Namun, hanya Allah yang berhak menentukan nasib seseorang. Apakah akan disadarkan dengan hidayah-Nya, atau akan dibiarkan begitu saja sampai datang ajalnya. Maka, siapa yang tidak dipedulikan lagi oleh-Nya, dan ia tidak menyadari akan hal tersebut, terus menumpuk dosa karena merasa aman, sungguh tidak ada lagi yang bisa dikasihani selain itu.

Posting Komentar untuk "Ketika Ilmu Tanpa Amal"