Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wali Tidak Mengakui Dirinya Wali

Benar kiranya seorang wali tidak akan mengakui dirinya wali, seorang shalih tidak akan mengakui dirinya shalih, sehingga apabila seorang wali dan seorang shalih tidak mengakui kewalian atau keshalihannya maka bagaimana ia akan mengakui karomah yang ada padanya jika itu terjadi atas dirinya? Sementara kemampuan maunah berupa keajaiban adalah pertolongan Allah yang tidak bisa diada-adakan atas kehendak seseorang ketika berada dalam marabahaya atau masa-masa genting seperti ketika seorang mujahid melemparkan batu ke arah tank musuh batu itu meledak dan menghancurkannya, atau ketika sebuah rudal jatuh ke hadapan seseorang, rudal itu tidak meledak, atau ketika seseorang diserang dengan senjata tajam tubuhnya tidak terluka. Semua itu atas izin Allah dan hanya Allah sajalah yang berkehendak atas terjadinya sesuatu.


Hanya seorang mukmin saja yang mengalami ujian, seorang maksiat bila ditimpa sesuatu keburukan tidak dikatakan sebagai ujian melainkan balasan atas apa yang dilakukannya, yaitu amal-amal buruknya. Seorang maksiat yang mendapatkan kesenangan dan keberuntungan adalah sebuah Istidraj, ini lebih buruk daripada teguran atau balasan yang buruk. Istidraj membuat pelakunya tidak sadar karena dirinya merasa aman dan terus mengalami keadaan yang menyenangkan hingga suatu ketika datanglah azab secara sekonyong-konyong menimpanya.

Seorang mukmin tentu tidak mengakui dirinya mukmin hingga ujian yang menimpanya tidak dikatakan sebagai ujian, melainkan siksa atau azab baginya. Atau, ujian dikatakannya hanya untuk para nabi dan rasul yang imannya sudah tidak diragukan lagi, sementara dirinya hanyalah butiran-butiran pasir yang ditiup angin. Sehingga tidak pantas baginya menyebut apa yang menimpanya sebagai ujian atas apa yang sudah diperbuatnya, seolah-olah ia menganggap berada pada puncak pohon yang tinggi, dan pohon itu kini ditiup angin, yang menggambarkan tentang level iman, taqwa, dan amalnya.

Sungguh, pengakuan itu, bukanlah pengakuan seorang hamba, yang menghamparkan dirinya ke bumi, yang kedua tangannya menengadah, selalu meminta dan meminta kepada Tuhannya siang dan malam. Bahkan ia sampai merasa malu untuk meminta jika saja bukan karena perintah Tuhannya untuk meminta kepada-Nya dan menunjukkan betapa fakirnya ia.

Wallahu A’lam

Posting Komentar untuk "Wali Tidak Mengakui Dirinya Wali"