Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengunjungi Kembali Perpustakaan Daerah Lampung


Setelah sekian lama tidak ke Perpustakaan Daerah karena terhalang oleh pandemi. akhirnya hari ini saya kembali menginjakkan kaki ke tempat yang sama, tempat yang telah saya kenal sejak duduk di bangku SMP kelas dua karena diajak oleh seorang teman kelas keturunan tionghoa. Kami biasa menghabiskan waktu di sana sepulang sekolah hingga sore dan membawa pulang buku yang dipinjam. Kebanyakan buku novel asing yang dialihbahasakan berkisah tentang petualangan seperti Buku Lima Sekawan dan Harry Potter.

Berhubung masa berlaku kartu keanggotaan perpustakaan saya sudah lama habis saya pun tidak menyiakan kesempatan ini untuk membuat kartu baru. Syaratnya masih sama, yaitu fotocopy KTP (lagi-lagi fotocopy), dan pas photo ukuran 2x3 (berwarna atau hitam putih) sebanyak 2 lembar. Setelah mengisi form formulir pendaftaran (yang isinya seperti nama, tempat/tanggal lahir, alamat, dan Nomor KTP/NIK sebenarnya tidak diperlukan karena harusnya sudah ada pada fotocopy KTP. Untuk alamat sekarang dan pekerjaan okelah mungkin bisa jadi berbeda dengan apa yang ada pada KTP sehingga bisa dimasukkan sebagai isian formulir) dan menyerahkan persyaratan tersebut, saya disuruh menunggu. Petugasnya kebetulan dua anak sekolah yang sedang PKL di sana bersama dengan pegawai perpustakaan. Tidak lama mungkin sekitar kurang dari 10 menit. Kartu pun jadi tapi bedanya kali ini tidak disertakan kartu anggota hanya dua buah kantong buku, yaitu berupa kartu yang bisa diselipkan kartu informasi buku. 

Pada setiap buku di perpustakaan terdapat kartu yang diselipkan di bagian belakang di mana kartu tersebut berisi informasi buku dan daftar berupa nomor anggota yang meminjam buku tersebut dan tanggal pengembalian buku. Saat buku akan dipinjam, kartu tersebut akan diambil lalu dimasukkan ke dalam kantong buku si peminjam lalu disimpan oleh petugas perpustakaan yang berjaga. Selain kartu informasi buku, di bagian belakang buku sebelum cover juga ditempel selembar kertas yang berisi tulisan manual berupa nomor kartu anggota peminjam dan cap tanggal pengembaliannya. Hmm, ternyata masih manual ya. Saya pikir akan lebih baik kalau sudah menggunakan barcode jadi tinggal scan saja alih-alih ditulis manual lalu dicap tanggal. Bila menggunakan sistem akan mudah juga dalam melakukan pelacakan secara otomatis karena sudah terintegritas. Jadi tidak lagi diperlukan kantong buku, cukup dengan selembar kartu anggota yang sudah terdapat barcode, begitu pula tidak lagi diperlukan kartu informasi buku, cukup dengan barcode juga. Lalu bagaimana kalau listrik padam? Catat saja nomor anggota dan nomor identitas buku, yang kemudian bisa diinputkan manual jika listrik sudah menyala kembali. Akan jauh lebih baik pula jika gedung perpustakaan memiliki panel surya untuk tenaga listrik sehingga bila listrik dari PLN padam setidaknya ada tenaga listrik alternatif selain menggunakan mesin genset. 

Saya lalu masuk ke ruang utama perpustakaan dan menyambangi meja yang dulu sering saya pakai. Hal yang mengejutkan saya, dulu biasanya untuk menggunakan wifi perpustakaan diperlukan password tetapi kali ini tidak lagi diperlukan. Ini merupakan hal yang baru bagi saya. Memang semestinya demikian untuk memudahkan siapa pun pengunjung perpustakaan untuk bisa mengakses internet karena sudah merupakan satu kebutuhan. Perpustakaan adalah sarana untuk mendapatkan informasi yang luas, tidak hanya disajikan dalam koleksi buku-buku yang terdapat dalam setiap rak-raknya, tetapi juga dalam wujud elektronik, termasuk adanya akses internet.

Posting Komentar untuk "Mengunjungi Kembali Perpustakaan Daerah Lampung"