About Me

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Nama saya hanya satu kata yang terdiri dari 6 huruf: Fatoni. Lahir di bulan September di suatu  tempat di tanah Banten: Pandeglang, yang otomatis memberi saya darah sunda, namun saya tumbuh besar dari kecil di Lampung hingga kini.

Quote

"Tidak sempurna dan tidak pintar, hanya mengikuti suara hati dan intuisi"

Jauh dari kata sempurn, baik, dan pintar, hanya orang biasa yang super awam dalam hal apapun, miskin amal, ilmu hanya seujung kuku dari ilmu yang dimiliki oleh siapapun bahkan yang dianggap bodoh sekalipun, karena hanya seperti ranting kecil di tengah semak-semak liar dalam hutan yang gelap. Dalam kesadaran akan kurangnya ilmu dan keluwesan pribadi terkadang terbesit di benak pantaskah menulis? mengutarakan opini? menilai peristiwa? pantaskah saya melakukannya? jika saya tidak melakukannya lantas apa yang saya lakukan untuk mengisi kehidupan? menulis  menjadi salah satunya.

"Pikiran adalah arah, tapi gerakan adalah tanda kehidupan"

Quote di atas terinspirasi dari Hasan al Banna, seorang pendiri Ikhwanul Muslimin Mesir, saya sempat membaca riwayat singkatnya dan bagaimana sepak terjangnya. Beliau seorang visioner gerakan Islam yang menggabungkan banyak aspek mulai dari pendidikan, kesehatan, politik, bahkan militer.

"Tetapkan kaki di bumi, bentangkan visi hingga ke langit tertinggi"

Terdengar sangat ambisius, quote ini sudah ada paska SMA. "Tetapkan kaki di bumi" bermakna membumi (meski saya bukan termasuk orang yang cukup membumi), "bentangkan visi hingga ke langit tertinggi" berarti membuat visi seluas-luasnya tanpa batas. Visi adalah cita-cita global. Namun, motto ini tidak lagi saya pegang karena terlalu terdengar perfeksionis, jauh api dari panggang, dan saya mulai menghindari hal-hal yang bersifat perfeksionis karena itu tidak terlalu baik. Dan pandangan perfeksionisme ini bersahabat erat dengan nilai-nilai idealisme yang saya anut, namun mengembangkan sifat kritis dan kekurangan pada sesuatu hal yang pada akhirnya terjadi, cenderung menilai diri secara skeptis karena merasa kurang perfek.

"Karya utama bagi Kreator bukan keuntungan semu yang mengikat melainkan kebebasan mengikuti intuisi"

"Sederhanakan tujuan perlahan demi perlahan, memang tiap tetes air tak pernah menjadi lautan (dalam sekejap) tapi satu jalan yang terus dituju akan sampai pada tujuan"

Dua quote di atas saya buat untuk halaman Motto Tugas Akhir saya. Motto pertama, sebenarnya merupakan suara hati bahwa untuk menciptakan sesuatu bukan didasarkan pada keuntungan materi yang bersifat semu melainkan itu semua dilakukan atas dasar mengikuti intuisi, mengikuti suara hati. Motto kedua, mengingatkan pada diri saya bahwa untuk menggapai suatu tujuan tidak bisa dilakukan secara instan tanpa melalui suatu proses, tapi yakinlah bahwa tujuan itu akan tercapai sebagaimana jalan yang terus kita jalani pasti akan membawa kita pada tujuan akhir jalan tersebut.

Saya memiliki kencenderungan diri pada kebebasan, namun tak akan pernah lepas dari takdir Tuhan. Cita-cita saya adalah menggenapi nilai-nilai idealis, namun itu perlu diperjuangkan, tentu tidak dengan cara-cara yang dianggap radikal, ekstrem, tapi dengan pemahaman yang moderat (asal tidak keluar jauh dari jalur akidah). Sangat tidak cocok dengan pemikiran liberal, pluralisme, dan Syi'ah, maupun pemikiran-pemikiran garis keras yang jauh dari akhlak yang baik (meski saya mungkin bukan orang yang cukup baik menurut pandangan manusia, terlebih Allah yang lebih mengetahui).


NB: domain fatoni.id saya aktifkan pada bulan Juli 2017, saya tidak bertanggung jawab atau berlepas diri dari apapun yang terkait dengan domain ini sebelum bulan Juli 2017.